Ketika mendengar kata desa, yang terbayang dalam pikiran kita adalah potret-potret pemandangan yang indah, dimana petak-petak sawah terhampar luas, udara yang sejuk, banyaknya pohon yang rindang dan teduh, serta penduduk yang sederhana yang ramah dan bersahabat dengan siapa saja. Suasananya tenang. Jarang sekali terdengar suara hingar bingar seperti di kota.
Biasanya mata pencaharian penduduk desa monoton sesuai dengan lingkungannya, tidak seperti di kota yang beragam. Kalau dekat dengan pantai, umumnya banyak nelayan dan penjual hasil laut. Di desa yang dekat kaki gunung dengan mudah kita bisa menemukan petani. Itulah sekilas gambaran desa yang tertanam dalam dalam mindset kita sejak kecil.
Lalu bagaimana dengan Dayeuhkolot, tempat kita bermukim?
Sejak didirikannya Yayasan Pendidikan Telkom di daerah ini, terjadi perubahan di sekitar bangunan kampus. Perubahan memang hal yang lumrah terjadi. Namun perubahan yang mengarah ke hal negatif sebisa mungkin harus kita cegah. Apalagi hal yang merugikan masyarakat. Jangan sampai tulisan besar yang terpampang besar di dinding kampus, “Giving and Caring the World” hanyalah sebuah slogan yang semakin lama akan memudar dan dilupakan. Jangan sampai pembangunan kampus yang banyak menghasilkan “orang-orang terdidik” ini justru merugikan penduduk sekitar.
Dampak yang paling terlihat saat ini adalah berkurangnya lahan sawah, lahan untuk penghijauan dan daerah resapan air, berganti dengan dibangunnya kos-kosan mewah yang harganya selangit. Sepertinya tidak mau kalah dengan bangunan kampus yang terlihat mewah. Pembangunan kos-kosan ini pun dilaksanakan secara sembarangan, tanpa adanya pengaturan lahan yang terencana. Daerah resapan air, hal itu sepertinya kurang dipedulikan oleh para pengusaha kos-kosan. Sehingga hampir setiap kali hujan daerah Dayeuhkolot bagian selatan terkena imbasnya, banjir.
Dampak negatif lainnya? Penggunaan kendaraan bermotor yang sering lalu lalang untuk ke kosan – kampus turut menyumbang udara kotor di daerah yang tadinya asri ini. Belum lagi ketika ada pembangunan kampus IM Telkom, sepertinya udara semakin tercemar dengan butiran pasir dan debu yang bertebaran, juga truk-truk pengangkut bahan bangunan yang berasap tebal. Tak heran jika daerah Bandung Selatan yang suhunya lebih tinggi dibanding dengan Bandung kota kini semakin terasa panas.
Mahasiswa/i yang menempati kos-kosan yang tidak mendapat pengawasan intensif, atau terlalu diberi kelonggaran, bukan tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang diluar batas nilai-nilai moral. Anda tentu mengerti apa yang saya maksudkan. Orang tua jauh, sang pemilik kosan juga tidak peduli, teman… apalagi?!
Sepintas masalah moral anak kos yang seperti itu terlihat sepele, karena itu adalah urusan pribadi tiap-tiap orang. Untuk apa ikut campur? “Yang menasehati pun belum tentu tingkah lakunya lebih baik!” mungkin seperti itu kira-kira biasanya bantahan mereka yang sudah terbiasa dengan sesuatu yang tidak baik.
Terlepas dari pemikiran pengaruh didikan orang tuanya, pergaulan di masa lalunya, atau latar belakang kehidupannya, pernahkah anda mendengar kata-kata “dosa seseorang menjadi dosa satu kelompok?” Bagaimana jika nama baik Yayasan Pendidikan Telkom menjadi jatuh hanya karena perbuatan buruk segelintir orang yang kebetulan terpublish di media umum? Pikirkan juga perasaan penduduk lokal yang nama daerahnya juga ikut tercemar akibat kedatangan penduduk asing. Dan sepertinya memang tidak akan habis apabila kita terus mempermasalahkan dampak negatif, yang solusinya memerlukan pemikiran panjang.
Untuk itu, dengan tidak menyepelekan hal-hal negatif di atas, ada baiknya kita berinisiatif untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya kepada penduduk lokal agar kehadiran kampus-kampus milik Yayasan Pendidikan Telkom tidak hanya berguna untuk para civitas akademikanya saja. Namun juga penduduk sekitar merasakan perubahan yang sangat berarti untuk mereka, untuk menunjang kehidupan keseharian mereka, perubahan yang positif tentunya.
Mungkin bisa dimulai dari pribadi kita sendiri dengan berkelakuan baik selama berada di daerah orang. Sebagai mahasiswa/i otomatis kita akan dipandang sebagai orang yang berpendidikan, berilmu tinggi. Sangat tidak pantas orang yang berpendidikan tetapi kelakuannya sama dengan orang yang tak mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan. Berikanlah contoh yang baik dengan berkelakuan sopan, tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Buatlah agar masyarakat senang dengan kehadiran kita bukan karena “materi” yang kita berikan ke mereka, tapi lebih kepada tingkah laku keseharian kita, Giving and Caring the World.
Dengan ilmu yang kita peroleh, ada baiknya kita manfaatkan untuk lebih mendekatkan diri ke masyarakat sekitar. Kita sama-sama tahu bahwa penduduk di sekitar kampus yang megah ini bukanlah berasal dari golongan mampu. Bahkan yang berasal dari golongan menengah pun bisa dibilang jarang. Dan seperti yang telah saya tulis di atas, rata-rata mata pencaharian penduduk sini pun sesuai dengan lingkungannya, tak jauh-jauh dari urusan kepentingan mahasiswa/i, terutama kos-kosan. Kalau tidak menjadi calo kos-kosan, mungkin menjadi penjaga kos atau menjadi tukang bangunannya. Mungkin masih ada beberapa orang yang menggarap sawahnya yang tinggal beberapa petak itu, memanen padi, mneggiling gabah. Tapi itu hanya tinggal beberapa.
Kalau dipikir-pikir pekerjaan apapun asalkan halal memang tidak masalah dan tak ada salahnya. Namun jika kita bias mengajarkan suatu keterampilan yang biasa kita kerjakan sehari-hari, namun hal baru bagi masyarakat sekitar, tentu hal itu akan menarik perhatian mereka. Dan mereka pun akan ikut merasa menjadi bagian dari keluarga Yayasan Pendidikan Telkom ini dengan adanya mahasiswa/i yang terjun langsung ke masyarakat sekitar. Siapa tahu ilmu yang kita ajarkan tersebut suatu saat bisa bermanfaat, dan juga bisa diandalkan menjadi sumber mata pencaharian alternatif yang mempunyai prospek cerah. Tidak lagi menjadi desa dengan penduduk bermata pencaharian yang monoton.
Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain?





1 komentar:
sebenrnya cuma iseng2 aj sih ngisi2 form detech, kya'a it program baru dari bem. sy sendiri aj gtau detech tu ap, hehe.. awalnya sy kita sjenis lembaga gt lah kya prisma, tp trnyta kepanitiaan!! waduh!
gpp sih, bagus mlh. secara klo kepanitiaan kn sementara. jd ga begitu terikat bgd lah. klo ud sesai acranya ,ya udhan.
lgian tujuan utama sy sih pgen jlan2 aj, melihat sekitar, hehe.. pgen tau masyarakat dayeuhkolot tuh kya gmn c kondisinya. nah kebetulan jg dsruh buat essay sbg persyaratannya. ywdah sxan sy kluarin aj unek2 sy, abs lm2 sebel jg ngliat kondisi kmpus yg mkin hari mkin aneh2 aj klakuan mhsiswanya. mntg2 ud mhsiswa x yaa, ngrsa ud gede.. ud dewasa, hehe
nah yg d ats it essay sy yg ga brturan susunan klimatny, mklm sy kn bkn penulis.. :p
Posting Komentar